Sharing Session Pertama dan Unboxing Kopi Anget
Penyelenggaran sebuah acara dengan materi akademis tidak
harus terasa berat dan menakutkan. Walaupun isinya serius dan ilmiah,
kemasan dan pesan utama acara bisa dibuat lebih fun dan santai. Hasilnya malah
bisa lebih efektif dibandingkan apabila dilakukan dengan cara konvensional yang
cenderung resmi dan kaku.
Acara sharing session pertama sekaligus unboxing Kopi Anget
yang diadakan tanggal 20 Februari 2019 yang lalu mencoba membawa nuansa itu.
Acara yang digelar di lantai 15 gedung Sutikno Slamet DJA tersebut terbilang
sukses menarik minat peserta untuk hadir dan terlibat sampai acara selesai.
Sebenarnya bobot materi sharing session tersebut tergolong
berat. Materi seputar penulisan karya tulis ilmiah yang kedengaran sangat
serius dan jauh dari suasana having fun tersebut biasanya cenderung membuat
pegawai enggan untuk hadir. Apalagi kalau menilik image pembicara sharing
session yang bernuasa sangat akademis, yaitu DR. W.P. Adhi Putro, S.Si. MEng
dari BPS (Badan Pusat Statistik) dan DR. Irsan Moeis dari Ditjen Anggaran
sendiri. Ditambah dengan berbagai alasan lain yang biasanya muncul di benak
peserta saat mendapat undangan acara dengan cap "ga asyik", komplit
sudah 1000 alasan untuk tidak hadir (note: 1000 alasan-nya tidak usah
digoogling ya, goyang ga ditanggung... 😁 )
Tapi kenyataan yang terjadi malah sebaliknya. Acara ramai
dihadiri peserta, bahkan masih dirasa kurang alokasi waktunya. Peserta sudah
hadir di venue sebelum flexy time dimulai pada pukul 7.30 pagi dan selanjutnya
antusias mengikuti acara. Bahkan panitia harus membatasi pelaksanaan acara
walaupun para peserta masih ingin terus mengajukan pertanyaan dalam diskusi.
Acara terpaksa diputuskan berakhir pukul 10.30. Walaupun berat, tapi harus...
Padahal sedang sayang-sayangnya, kenang beberapa peserta yang juga teringat
nostalgia SMAnya dulu.
Ada beberapa hal yang menyebabkan fenomena ini. Yang pertama
dan terpenting adalah adanya ridho Allah SWT atas upaya, doa, dan niat baik
panitia dan seluruh pihak yang mendukung acara demi kebaikan dan kemajuan insan
DJA.
Hal yang kedua adalah telah tumbuhnya kesadaran para pegawai
DJA terhadap kebutuhan atas kemampuan menulis ilmiah. Kesadaran para pegawai
ini terkonfirmasi keberadaanya karena para pegawai selalu manggut-manggut saat
pak Amnu Fuadiy, Kasubdit Standar Biaya, memberikan pembukaan dan berbagi
wawasan tentang Peluang dan Tantangan seputar Penulisan Ilmiah. Tidak ada
protes ataupun demo peserta saat materi disampaikan pak Amnu.
Wajar kiranya jika para peserta menaruh kepedulian yang
besar terhadap perkembangan kondisi yang terjadi sejalan dengan materi yang
disampaikan dalam acara sharing session. Hal utama KTI yang menjadi perhatian
adalah arah pengembangan ASN menuju jabatan fungsional, JFAA yang telah
terealisasi di DJA , kebutuhan dalam tugas kantor maupun studi, dan peluang
eksistensi diri dalam memberikan manfaat kepada sesama melalui publikasi
ilmiah.
Hal yang ketiga adalah kemasan kegiatan yang ringan dan
santai yang membuat peserta merasa lebih nyaman. Meskipun substansinya cukup
berat, namun tampilan dan cara penyampainnya dibuat seringan mungkin.
Sejak tahap awal, materi undangan dibuat dengan media yang
nge-pop, berupa banner dengan bahasa yang gaul yang akrab. Dalam banner juga
dinyatakan bahwa kegiatan ini ditujukan bagi semua kalangan, terutama bagi para
pegawai yang ingin belajar dari nol, disertai sarana pendukung lanjutan
bimbingan mentor dan komunitas. Selanjutnya, penyampaian undangan
dilakukan melalui pesan w.a. (whatsapp) melalui grup-grup w.a. yang ada, selain
menggunakan jalur nota dinas resmi. Dan sentuhan terakhir berupa paparan
bernuansa santai dan akrab oleh pembicara pembuka maupun pemateri.
Motivasi serta contoh nyata dan mendasar tentang cara memulai penulisan ilmiah
yang disampaikan para pembicara dengan bahasa keseharian yang mudah dicerna
membuat suasana ringan dan bersemangat.
Hal selanjutnya yang menjadi faktor pendukung bagusnya
respon peserta adalah pesan positif dibalik kegiatan sharing session. Melalui banner
dan pemaparan dalam acara, peserta telah mendapatkan pemahaman bahwa acara sharing
session bukan acara tunggal tanpa kelanjutan setelahnya. Sebaliknya, sharing
session tersebut menjadi awal untuk proses berikutnya yang berisi berbagai
kegiatan di luar maupun di dalam komunitas untuk belajar bersama, bertahap
secara step by step, mulai dari hal paling dasar, dan dengan cara yang asyik
banget sesuai dengan nama komunitas Kopi Anget. Kata Asyikbanget di sini untuk
mengingatkan semua pihak bahwa niat baik untuk belajar dan meningkatkan
kompetensi diri perlu dilakukan dalam suasana yang kondusif dan menyenangkan.
Proses belajar penulisan ilmiah membutuhkan waktu dan tahapan cukup panjang
sehingga harus dilakukan dengan perasaan senang, bersemangat, serta dijauhkan
dari tekanan dan beban sebagai target penghasil karya tulis ilmiah dalam waktu
dekat. Filosofinya, berupaya belajar sesuatu yang bermanfaat itu mestinya
mendatangkan kesenangan, bukan kutukan.
Dengan pendekatan seperti itu, acara dihadiri oleh para
peserta dengan antusias sampai akhir waktu. Bahkan, pegawai yang mendaftar
untuk mengikuti komunitas telah mencapai 79 orang dalam waktu kurang dari
seminggu setelah pelaksanaan sharing session. Mudah-mudahan selanjutnya dapat
terus bertahan bahkan semakin berkembang.
Semoga acara sharing session tersebut menjadi milestone
pertama yang akan terus berlanjut dengan berbagai kegiatan berikutnya untuk
dapat memberikan hasil yang positif dalam meningkatkan kapasitas pribadi maupun
lingkup yang lebih luas. Aamiin.







Komentar
Posting Komentar