Frequently Asked Questions about Writing
Halo sobat Ngopi! Pernah tidak, sobat ingin membuat sebuah tulisan tapi tidak tahu apa yang ingin ditulis? Atau sudah punya ide tapi tidak tahu harus bagaimana mengembangkan ide?
Berikut ini beberapa hal yang sering ditanyakan tentang pembuatan karya tulis ilmiah,
1. Bagaimana sih mencari ide tulisan?
Ide tulisan bisa berasal dari sumber yang bermacam – macam, contohnya dari pengalaman, pengamatan, dan buku – buku, bisa berupa literatur, dll sumber ide itu banyak dan tidak terbatas.
Kalau sudah menemukan idenya, langsung saja ditulis di buku catatan atau smartphone supaya tidak lupa. Tulis saja apa adanya. Kalau ada waktu bisa dibuat langsung kerangkanya, namun jika sedang sibuk ide yang sudah ditulis bisa disimpan dulu dan dibuat kerangka nantinya.
2. Kalau sudah punya ide, bagaimana memulainya?
Ide – ide yang sudah terkumpul tadi, dipilih satu yang ingin dikembangkan. Kemudian tentukan apa yang ingin dikembangkan dari ide ini dilihat dari berbagai sisi. Untuk membuat suatu tulisan yang berbeda dari yang pernah ada tentang ide tersebut, sobat perlu mencari “gap” nya. “Gap” yang dimaksud di sini adalah sisi yang belum pernah dibahas oleh penulis lain. Caranya dengan membuat kerangka dengan 5w + 1h supaya dapat mengetahui ide yang lebih spesifik kemudian mencari tahu apakah sudah pernah ada tulisan yang sama sebelumnya yang membahas tentang ide tersebut.
Contoh: Pada hari libur jalanan di kota X lebih lancar dibandingkan hari kerja.
Mengapa lebih lancar pada hari libur?
Karena anak – anak tidak berangkat ke sekolah sehingga volume kendaraan di jalan berkurang.
Kapan terjadi kemacetan?
Hari Senin – Jumat, Pk. 06.00 – 08.00
Mengapa terjadi kemacetan?
Diakibatkan banyaknya jumlah sekolah di kota X, sehingga banyak anak yang berangkat sekolah. Anak yang berangkat sekolah umumnya diantar menggunakan kendaraan pribadi, sehingga meningkatkan volume kendaraan.
Apa dampak dari kemacetan tersebut?
Terhambatnya aktivitas perekonomian.
Bagaimana solusinya?
….
Dst.
Akan tetapi, kita juga boleh membuat tulisan dengan ide yang sama dengan tulisan yang sudah pernah ada sebelumnya, namun dari sudut pandang yang berbeda, atau dengan mengubah variabelnya.
3. Saya punya ide, tapi nggak tahu cara menulisnya ☹
Menulis itu kebiasaan, karena terkait dengan kosakata, teknik, dan gaya penulisannya. Nah, untuk menunjang itu memang kita harus banyak membaca. Biasanya orang yang suka membaca, dapat menulis dengan bagus, namun hal tersebut juga bukan jaminan. Kita tetap harus sering berlatih.
Bacaan yang kita baca akan membentuk suatu “database” di dalam otak kita, jadi ketika kita mulai membuat tulisan, kosakata dapat ditarik dari “database” tersebut. Sumber bacaan bermacam – macam. Ada yang suka baca filsafat, buku - buku ekonomi, bahkan novel. Sumber bacaan dapat mempengaruhi gaya tulisan seseorang. Penulis yang kita idolakan terkadang juga akan mempengaruhi gaya tulisan kita. Jka ingin tahu bagaimana caranya menulis, lebih baik mulai banyak membaca.
4. Ada tips & trick nggak dalam menulis karya ilmiah?
Jika bicara karya tulis ilmiah, untuk memudahkan dalam menulis, kita siapkan dulu format penulisannya. Format dapat mengerucut pada jurnal atau salah satu penerbitan. Kemudian kita masukkan pemikiran kita ke dalam format tersebut. Misalnya pada format ada latar belakang, tuangkan latar belakang ide kita ke dalamnya. Kita bisa melihat tulisan lain untuk mengetahui kata kunci yang biasa digunakan, contohnya kata kunci dalam penulisan pendahuluan dan rumusan masalah. Hal itu membutuhkan usaha dengan belajar sendiri untuk menuliskan masing – masing bagian tersebut. Setiap bagian memiliki teknik penulisan masing – masing.
Sobat ngopi yang punya pertanyaan – pertanyaan tentang penulisan karya tulis ilmiah, silakan komen di bawah ya!


Trm kasih atas tips en triknya ya.. tdnya sy kira artikelnya berbahasa Inggris melihat dr judulnya, apakah ada keharusan terkait judul en isi artikel hrs berbahasa sama/tdk min?
BalasHapusTerimakasih atas masukannya :D
HapusDalam hal penulisan karya ilmiah, jika diterbitkannya di jurnal lokal maka menggunakan Bahasa Indonesia. Akan tetapi, umumnya bagian abstrak tetap menggunakan Bahasa Inggris. Yang jelas, kalau judul karya ilmiahnya menggunakan Bahasa Inggris maka isinya juga menggunakan Bahasa Inggris. Kalau judulnya menggunakan Bahasa Indonesia maka isinya juga Bahasa Indonesia.
Dalam penulisan karya ilmiah saya sering menemui perbedaan format khususnya pada karya-karya yang terikat dengan gaya selingkung dari setiap PT. Apakah kira-kira diperlukan gaya selingkung dari setiap PT itu ?
BalasHapusHalo M. Rx :)
HapusKalau misalnya kita ingin jurnal kita dipubikasikan di suatu perguruan tinggi, maka kita ikuti aturan dan gaya penulisan perguruan tinggi tersebut. Kalau kita tidak mau, bisa mencari tempat lain. Memang aturannya, kita harus mengikuti gaya penulisan tempat karya kita akan dipublikasikan. Karena masing – masing tempat punya visi misi dan kebutuhan yang berbeda – beda ntuk memudahkan segmen pembacanya. Gaya selingkung dari masing – masing tempat atau perguruan tinggi memang sangat kita perlukan. Tentunya hal tersebut hanya sedikit mengubah gaya, kalau untuk substansi pada umumnya sama. Biasanya hanya susunan formatnya yang berbeda, namun secara substansi sama. Rata - rata ada masalah, metodologi, dan Analisa.
Assalamualaikum w.w
BalasHapusKak, lebih bagus mana karya tulis yang dirancang dengan ide dan imajinasi tinggi, wah, rumit, tapi tetap selesai kok.. Atau ide yang sederhana, selesai, dan aplikatif walau tingkat kebaruannya tidak begitu tinggi (?)
Waalaikumussalam :D, Sebenarnya karya tulis yang bagus itu yang selesai, baik yang sifatnya rumit maupun sederhana. Permasalahan untuk aplikatif tidaknya merupakan suatu hal yang berbeda. Sekarang banyak tulisan yang rumit dan bagus dari sisi ilmiah, tetapi dipertanyakan dari sisi pengaplikasiannya ketika dibandingkan dengan tulisan – tulisan sederhana namun aplikatif. Sebenarnya kedua hal tersebut memiliki dua “mahzab” tersendiri. Ada yang memang lebih suka seperti itu, yang penting pemikirannya tertuangkan. Ada juga yang lebih suka pemikirannya tertuangkan dalam tulisan, namun juga harus aplikatif. Keduanya bagus, yang penting tulisannya harus selesai.
HapusSelamat malam,
BalasHapusSaya ingin bertanya mengenai bagaimana cara meningkatkan minat membaca? saya menyadari bahwa kebiasaan membaca itu baik, terlebih jika ingin mengembangkan kemampuan menulis. Namun, rasanya susah sekali menumbuhkan niat untuk membaca. Terutama buku2 diluar ilmu yang kita pelajari, di perkuliahan misalnya.
Terima kasih.
Halo Vivi,
HapusMeningkatkan minat membaca di luar bidang kita memang agak susah, tetapi bisa kita pancing. Misalnya, kita punya ide tentang sesuatu yang sebenarnya berada di luar bidang kita, mau tidak mau kita harus melakukan research dan membaca tentang topik tersebut. Contoh, kita seorang akuntan namun ingin menulis tentang lingkungan hidup, mau tidak mau kita harus mencari referensi tentang lingkungan hidup.
Jika kita tidak dalam rangka ingin menulis tetapi hanya ingin meningkatkan minat membaca, carilah bacaan yang easy reading, jangan yang sulit – sulit dahulu. Contohya berupa tulisan populer, majalah, koran, novel, dan komik. Nanti kalau sudah sering membaca, kita dapat menemukan sebenarnya minat kita ada di mana.
Kalau untuk penulisan bisa menyesuaikan topik yang diangkat dalam tulisan kita. Misalnya menulis tentang ekonomi, maka research nya pada buku – buku ekonomi dan pengolahan data dari buku – buku statistik.
Awalnya baca pelan - pelan atau berkeliling ke toko buku untuk membaca, lama – lama pasti bisa. Yang penting konsisten meluangkan waktu untuk membaca buku, minimal satu jam atau beberapa menit dalam sehari. Semangat! :D
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat pagi, izin bertanya, apa perbedaan mendasar antara esai dengan karya tulis ilmiah? Lalu bagaimana cara mencari ide dan latar belakang penulisan karena seringkali ketika ingin memulai menulis, banyak penulis yang tersendat dalam pengerjaannya karena "kehabisan" ide. Lalu untuk penulisan karya tulis ilmiah sendiri, faktor apa saja yang diperhatikan sehingga karya tulis tersebut layak disebut "ilmiah"? Terima kasih.
BalasHapusWaalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, :)
BalasHapus1. Perbedaan mendasar antara esai dan karya tulis ilmiah,
Esai biasanya semi ilmiah dan tidak melalui penelitian yang mendalam. Bentuknya pun berbeda, biasanya hanya 15.000 kata, 1000 kata, dan 1.500 kata. Intinya adalah terdapat suatu permasalahan dan bagaimana pendapat kita terhadap hal tersebut. Apakah pro atau kontra. Kalau kita menyetujui statement tersebut, maka dibuat dalam bentuk tulisan singkat. Kalau kita misalnya sependapat dengan statement tersebut, kita cari literaturnya. Ada satu esai yang hanya 1500 kata namun referensinya bisa sampai empat puluh buku dan jurnal. Tentunya tidak seperti karya ilmiah yang ada pengolahan data, data sekunder data primer, statistik misalnya… dan yang pasti esai lebih ringan daripada karya tulis ilmiah.
2. Tersendat karena kehabisan ide? hmm..
Ide itu bisa didapatkan dari berbagai sumber dan berbagai cara. Kalau kehabisan ide karena tidak ada yang bisa didapatkan dari suatu tulisan atau bacaan, kita bisa melakukan diskusi dengan teman supaya ada “trigger”. Atau keluar dari rutinitas. Bisa jadi karena kurang “piknik”. Misalnya bisa pergi ke tempat – tempat baru. Begitu kita dapat ide, langsung ditulis ya ...
: D supaya tidak lupa idenya.
3. Faktor apa sih yang meyebabkan karya tulis disebut ilmiah?
Kalau ilmiah itu ada proses dan ada metodologi, artinya ada hal – hal yang dapat dibuktikan secara ilmiah dan sesuai fakta. Untuk layak disebut ilmiah maka terdapat komponen masalah yang akan dipecahkan, metode pemecaan masalah, dan Analisa yang dilakukan secara ilmiah. Ilmiah artinya dapat dibuktikan, bisa diuji dengan alat atau sudah ada referensinya.
Ini nih yang masih banyak membuat bingung para pemula, terima kasih admin penjelasannya.
HapusAssalamualaikum wr. wb.
BalasHapusSebelumnya saya ucapkan terima kasih untuk mimin (?) ngopianget yang sudah bersedia berbagi tips dan trik dalam menulis. Mau nanya dong min. Dalam menulis ilmiah, ketika kita menggunakan pernyataan atau statemen atau teori yang pernah dimuat dalam sumber tulisan yang lain kita kan harus memberi kredit terhadap pemilik statemen tersebut (dengan memberi kutipan dan semacamnya). Nah kalau misal kita ingin menggunakan statemen tersebut tapi diungkapkan dengan penulisan kata yang berbeda dengan pemilik aslinya sehingga kita tidak perlu memberikan kredit, apakah hal tersebut diperbolehkan? tolong dijelaskan juga ya min alasannya, soalnya mikirin kata-kata buat pertanyaannya agak perjuangan juga :v kalo cuma dijawab 'iya' atau 'tidak' aja sedih juga sayanya :'